Tampilkan postingan dengan label Sehari-hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sehari-hari. Tampilkan semua postingan

Unek-unek dari Ruang BK

KEBETULAN meja kerja saya meminjam salah satu sudut ruang BK. Alasannya, sinyal wifi (sesuatu yang vital dalam mendukung tugas operator sekolah) di sana lebih ngacir. Dengan demikian, saya sedikit banyak tahu siapa saja murid yang melanggar, doyan melanggar, punya masalah dan orang tua murid yang menghadiri undangan Pak Guru BK. Kalau tidak mencuri dengar-pandang, sesekali Pak Guru BK sendiri yang cerita pada saya. 
Sejak orang tua gampang (dan mungkin juga bangga) main lapor, guru-guru mapel di sekolah tempat saya kerja menumpukan semua problematika murid pada Pak Guru BK. Bahkan, murid ketahuan kentut di kelas saat proses pembelajaran saja langsung mereka suruh menghadap Pak Guru BK. 
Pantaslah bila Pak Guru BK paling sibuk mengurusi murid. Pagi-pagi sudah stand by di gerbang sekolah. Setiap pergantian jam pelajaran, satu per satu mengecek absensi murid. Nasehat dan omelan rutin meluncur dari tenggorokannya. Tiap hari menunya makan ati. Kadang kelimpungan memburu dan menyergap murid yang mbolos saat jam sekolah. Hebatnya, sampai sejauh ini dia masih fairplay. Belum satu kali pun main tangan dan main kaki. 
"Aku juga bingung murid-murid ndugal itu akan kuapakan, Pak. Teori-metode sudah mentok, ndak mempan!" 
"Tempeleng saja, Pak!" 
"Penginku, Pak. Tapi percuma, ndak bakalan mempan. Cuma dapat sakitnya doang." 
"Mbelingnya ngaudubilah mosok mau alus-alusan terus, Pak? Bisa ngelunjak!" 
"Ndak bisa, Pak, ndak bisa. Jamannya sudah lain. HAM!" 
Karena enggan memakai kekerasan, Pak Guru BK lantas mengambil jalan pamungkas, yaitu mengundang orang tua ke sekolah atau melakukan kunjungan rumah. Bersama membicarakan sekaligus mencari solusi. 
Atas dasar hasil curi-pandang dan cerita Pak Guru BK, saya ambil empat pernyataan orang tua murid yang saya rasa mewakili pernyataan-pernyataan lain: 
"Di rumah sudah saya hajar habis-habisan, Pak. Malah, ayahnya pernah mengurungnya di dalam WC. Terus terang, saya puyeng ngadepinnya. Saya pasrahkan saja sama Bapak." 
"Elho, anak saya di rumah manut lho. Waktunya belajar, ya, masuk kamar, belajar. Sholatnya rajin. Ngaji juga. Di sekolah kok begini ya, Pak?" 
"Bangunnya kesiangan terus, Pak. Tolong sampeyan maklumi. Mohon pengertian Bapak." 
"Saya tahu anak saya ngerokok. Wajar, Pak, kenakalan remaja." 
Mendengar pernyataan-pernyataan kurang mutu itu Pak Guru BK biasanya narik napas panjang. Prihatin. Maunya kerja sama cari solusi, tidak tahunya dirinya yang ketempuan. 
"Urusan murid kompleks, Pak. Bikin frustasi!" 
"Nggak gitu juga, Pak. Orang tua tetep harus ambil bagian. Jangan apa-apa nyerahkan ke sekolah, nyalahin sekolah. Emange sekolah tempat pemarkiran anak po piye?" 
"Siapa tahu mereka juga frustasi, Pak." 
"Salahe sopo kenthu!" 
"Ojo terus ngono kui, Pak." 
"Welha, rak bener to, Pak? Pendidikan pertama ada di tangan orang tua. Lha, orang tuanya frustasi, apalagi kita?" 
"Sebagus-bagusnya orang tua ndidik, belum tentu anake baik lho. Ingat, Pak, lingkungan kadang sangat kejam." 
Lingkungan? Oh, ya, hampir saya lupakan saat Pak Guru BK mengintrogasi murid: 
"Kamu beli rokok di mana?" 
"Di warung, Pak." 
"Kamu beli mendheman di mana?" 
"Di warung, Pak."
Saya tidak punya hak melarang warung jual rokok, jual miras. Cuma, mbok pilih-pilih konsumen. Lihat-lihat dulu siapa yang beli. Jangan asal sing penting payu, bro. 
Lain lagi di pergaulan. Kala-kala orang dewasa mengajarkan yang tidak-tidak. Memancing dan mendorong anak-anak untuk melakukan yang belum layak lelakon. Contoh kecil, ketika orang dewasa mengatakan hal berikut pada anak-anak:
"Kelas 2 SMP kok gak punya pacar? Pacaran dong, biar semangat belajarnya!"
"Udhuto, Le. Ra popo! Aku gak akan bilang-bilang sama bapakmu." 
"Sekolah gak usah rajin-rajin. Lulus belum karuan jadi apa kamu." 
Bila lingkungannya bajinguk, alpa mendidik, niscaya guru dan sekolah takkan mampu berbuat banyak. Murid, paling pol, ada di sekolah hanya 8 jam sehari. 16 jam sisanya, lebih banyak di rumah dan di lingkungan. Dari segi waktu, rumah dan lingkungan tentu lebih punya peluang untuk memengaruhi anak. 
"Idealnya, orang tua, lingkungan dan sekolah saling mendukung, Pak. Sama-sama terlibat." 
"Idealnya ya, Pak ..." 
"Idealnya begitu, Pak." 
"Susah, Pak, cari yang ideal." 
"Makanya saya bilang ngurusi murid bikin frustasi!" 
"Ya, sudah, Pak, bocah-bocah mbeling itu jangan dinaikkan. Biar rumongso!" 
"Pak Par ini, lho ... Mana berani sekolah kita ndak menaikkan murid. Wong butuh murid kok, Pak. Satu murid ndak naik, sekolah kita bisa tercoreng. Bisa ndak laku!" 
"Koyo ngono kui yo, Pak." 
"Kayak ndak paham sekolah ini saja, Pak, Pak. Sengotot apapun aku mengusulkan si X si Y ndak naik kelas, pasti percuma! Mereka bakal nyreweti aku."
"Pantesnya nggak naik, ya, nggak naik." 
"Wis, nanti didengar yang dapat sertifikasi ndak enak. Tak anggep wae iki resikone guru BK." 
Aduh, duh, saya salut betul sama Pak Guru BK, kawan seperjuangan dan seruang itu. Honorer, gajinya 200 ribu, tiap hari menghadapi kelakuan murid yang neko-neko, ortu yang masa bodo, lingkungan yang terlaluh dan orang dalam yang cari enak sendiri, kok bisa-bisanya sesabar itu. Coba kalau saya ... sudah saya gasak itu murid. Mau dibilang pelampiasan atau apalah, terserah. 
Dulu, sebelum dialihtugaskan ke meja operator, saya pernah ngajar. Kurang lebih 8 tahun. Selama itu, beberapa kali saya menggampar murid. Alhamdulillah, aman. Tak ada yang protes, tak tersentuh pidana. Sebab, saya pakai trik. Triknya sepele. Pertama, peringatkan murid yang nakal sebanyak 3 kali dengan intonasi tegas, lebih tegas dan makin tegas. Kedua, bila masih kelewat batas, panggil ke depan, lalu ajak bicara: 
"Kamu tahu kenapa saya panggil? Ngaku! Jujur!" 
"Karena saya bandel, Pak." 
"Kamu sadar sudah kebangeten?" 
"Sadar, Pak." 
"Saya sudah peringatkan kamu. Kenapa masih bedhigasan?" 
"Anu, Pak. Anu ..." 
"Terpaksa saya menghukum kamu. Paham?" 
"Paham, Pak." 
"Kamu mau hukuman apa? Push-up, berdiri di satu kaki, mengerjakan soal-soal satu LKS penuh,  membuat resume, dicubit, dijewer atau saya tampar?" 
"Ditampar, Pak." 
"Benar, kamu mau dihukum tampar?"
"Inggih, Pak."
"Tapi ingat, jangan salahkan saya. Kamu harus ikhlas dan tidak melapor sama bapak-ibu kamu." 
"Siap, Pak." 
"Janji?" 
"Janji, Pak."
 "Sumpah?" 
"Sumpah, Pak." 
"Demi apa?" 
"Demi Allah, Pak." 
PLAK!PLAK! 
"Aduuuuh ..." 
"Kamu sudah sumpah, lho. Saksinya sak kelas. Orang ingkar sumpah, do ..." 
"Sa ..." 
"Masuk nera ..." 
"Ka ..." 
"Kamu mau masuk neraka?" 
"Tidak, Pak." 
"Oke, jangan ingkari sumpahmu!" 
"Iya, Pak." 
"Duduk sana. Jangan bandel lagi!" 
Anehnya, mereka justru mecucu, menggerutu, bila saya menghukum dengan memberi tugas-tugas sekolah atau hukuman akademis lainnya. 

Sukoharjo Makmur, 4 Juli 2016

Kebanggaan

LAGI spanneng-spannengnya membuat brosur pendaftaran murid baru, tiba-tiba Beka mak pethungul di belakang saya.
"Belum kelar, Par?"
"Ini bikin baru, Bek."
"Yang kemarin?"
"Nggak cocok. Makanya mrintah bikin lagi."
"Weh, piye to Pak Kasek itu?"
"Embuh!"
"Kamu minta saja dia buat oret-oretan dulu di kertas, jadi kamu tinggal ngelukis di potosop."
"Sudah, Beeeeek. Yang kemarin sudah gitu. Modelnya, tata letaknya, ukurannya, warnanya, dia yang nggambar sendiri di kertas!"
Beka mengerutkan dahi. Saya menyungutkan mulut.
"Lha, kok belum cocok?"
Saya menggerakkan kursor, menampilkan foto Pak Kasek yang berjalan sejajar dengan Pak Bupati di depan beberapa pejabat kabupaten. Foto tersebut dijepret tahun kemarin, saat Pak Bupati dan beberapa pejabat kabupaten mengunjungi sekolah kami untuk nyangoni salah satu murid yang akan berlaga di olimpiade sains tingkat nasional. Waktu itu, makanan limpah-ruah, komplit dan enak-enak. Murid-murid, guru dan pegawai TU berbaris menyambut sebelum kemudian berebut salam dan cium tangan Pak Bupati. Tetabuhan gamelan mendayu-dayu. Dana sekolah terkuras demi formalitas yang hanya berlangsung selama dua jam saja.
Beka langsung paham maksud saya.
 "Oalaaaaah ... Itu, to? Mbok kemarin sekalian poto itu dipasang. Jadi kamu ndak repot lagi."
"Asem, kok nyalahin aku sih? Ceritanya, tadi pas aku kasih lihat brosur yang kemarin, dia nyuruh aku copas poto ini dari laptopnya. Kemarin dia nggak bawa laptop. Terus dia bikin sketsa baru lagi. Pokoke poto ini wajib tampil di brosur, katanya."
Saya menggoreskan pentool di layar Photoshop, membangun shape-shape warna-warni sesuai perintah Pak Kasek. Hari ini harus rampung.
"Apa bagusnya to cuma poto seperti itu?"
"Rak yo bangga bisa mlaku bareng Pak Bupati, Bek. Bupati, lho, Bek, bupati! Kesempatan langka!"
Beka nyengir seperti kuda kelaparan.
"Tak pikir-pikir, aslinya kita salah kaprah, Par."
"Kamsudmu?"
"Soal bangga bisa bareng Pak Bupati itu, Par. Seharusnya Pak Bupati, dong, yang bangga bisa jalan dan ngumpul bareng rakyat. Yang nyoblos dan ngangkat dia kan rakyat. Istilahnya, rakyat bos, dia babunya. Di mana-mana, pasti babu yang pengen dekat sama bosnya."
"Terus?"
"Kalok Pak Bupati ngunjungi rakyat, ya, ndak perlu nyiapin makanan, ndak usah rebutan salaman, ndak penting nanggap gamelan. Biasa sajalah. Mosok bos ngladeni babunya? Ndak fair, dong!"
"Babu-babu bathukmu nyonyor! Kedengeran Pak Bupati, kamu bisa out."
Beka tertawa.
"Out ke mana to, Par, wong aku cuma honorer. Out juga bukan kiamat! Kan aku punya tambak garam."
"Sudah, sudah, jangan ndemimil wae! Ini nggak rampung-rampung nanti."
Beka lagi-lagi tertawa sebelum enyah dari kesibukan saya. Entah apa yang dia tertawakan.
Akhirnya, brosur selesai saya kerjakan. Tentu, sesuai dengan sketsa made in Pak Kasek. Setelah mencetak brosur (sebagai contoh jadi) dan mematikan laptop, saya bergegas menghadap Pak Kasek di ruangannya. Pak Kasek pun segera membolak-balik brosur. Saya mulai gelisah, khawatir ada yang kurang, tidak cocok lagi.
"Ini jangan taruh bawah. Taruh paling atas! Besarnya juga kurang, belum jelas kelihatan."
Nah, lho. Kekhawatiran saya terbukti.
"Yang mana, Pak?"
"Ini!"
Pak Kasek menunjuk foto kebanggaannya yang sudah mapan di brosur. Foto tersebut juga terpajang manis di dinding ruangannya dengan frame ukiran berwarna emas, tepat di bawah gambar tiga simbol kenegaraan (Garuda Pancasila, Presiden dan Wakil Presiden). Tampak Pak Kasek tersenyum bungah, sedangkan roman muka Pak Bupati datar-datar saja.
"Ini sudah fix sama sketsa bapak, lho."
Saya merogoh saku kemeja. Mengambil sketsa brosur, lalu menyerahkannya pada Pak Kasek. Pak Kasek melihatnya. Suara kertas tersentil mendadak seperti linggis yang menusuk liang kuping saya.
"Ganti! Foto-foto siswa di perpus dan di lab ini delete saja untuk space foto saya dan Pak Bupati. Ingat, ukurannya harus paling besar! Jangan lupa beri tulisan nama saya dan nama Pak Bupati, lengkap dengan titelnya!"
Pak Kasek kemudian ngurek-ngurek kertas. Membuat sketsa brosur lagi. Saya hanya bisa menelan ludah. Kebanggaan Pak Kasek akan foto dirinya bersama Pak Bupati membuat saya betul-betul seperti mainan, seperti babu, jongos, yang tak punya pilihan selain yes sir. Sambil ngedumel dalam hati saya keluar dari ruangan Pak Kasek yang full AC itu. Tentu dengan membawa sketsa brosur terbaru.
"Eh, Pak Par, Pak Par! Pak Bupati sekarang sudah doktor. DR-nya kapital!"
Saya menjawab tanpa menoleh.
"Inggiiihhh, Paaak!"

Rumah Kang Lantip, 24 Mei 2016

Kapitalis Sawo Mateng

TIBA di rumah Kang Lantip saya lihat Gepeng berbaring di atas tikar lusuh dan sedang serius menikmati kesemokan body artis-artis sinetron Asisten Rumah Tangga. Di sampingnya, Anduk juga berbaring dengan mata yang sudah merem. Tepat di belakang mereka, Kang Lantip, Mudji dan Gamblis duduk di kursi masing-masing, mengelilingi sebuah meja yang di atasnya teronggok tiga cangkir kopi serta nampan karet yang sudah kosong dan berminyak.
"Kok malem, Par? Ada kerjaan?" seru Kang Lantip melihat kedatangan saya. Mudji dan Gamblis sibuk ngobrol.
"Iyo, Kang. Ngedit poto teman buat kawinan," jawab saya.
"Iki kopine," Kang Lantip menunjuk cangkir kopinya, "tak bikinin po?"
"Ora, ora, Kang! Itu saja, join sama kamu."
Saya pun meminum kopi dari cangkir Kang Lantip. Sudah dingin. Lalu, saya menyulut sigaret, mengelepuskan asap pertama dan berbaring di samping Anduk. Gepeng menyodorkan bantal saat kepala saya hampir menyentuh permukaan tikar. Dengan posisi yang melenakan boyok, saya ikut-ikutan menikmati kesemokan body artis-artis sinetron Asisten Rumah Tangga. Tetapi kuping ... ah, dasar kuping tak tahu tata-atur ... malah nguping obrolan Mudji dan Gamblis. Tak ayal, mata pun terpancing untuk mencuri-curi pandang.
"Aku kok gak percaya sama mereka-mereka yang buka warung di Jakarta itu. Cerita labanya gede, tapi kendaraannya, rumahnya, masih begitu-begitu saja," kata Mudji dengan mata lebar dan tampang acak-acakan.
"Iyo, yo. Bilangnya sebulan dapet belasan juta. Harusnya, paling ndak mereka beli mobil dong. Mustahil punya duit banyak ndak mau nggaya," tanggap Gamblis dengan tampang yang tak kalah acak-acakan.
Kang Lantip cuma senyam-senyum. Saya diam saja, males untuk nimbrung.
Berawal dari mendengar kesuksesan orang-orang sesuku, empat lima tahun terakhir ini, beberapa warga di kampung saya kesemsem mboro ke Jakarta untuk membuka warung. Modalnya, hasil penjualan harta benda, seperti tanah, perahu dan kendaraan. Ada juga yang minjam sana-sini. Yang nggak gablek modal, menjaga warung milik kenalan atau kenalannya kenalan. Kisah-kisah tentang jerih payah mereka kemudian silih berganti menggetoktulari seantero kampung. Entah betulan, entah kembang lambe saja.
"Kalo dipikir-pikir, masih enakan kowe, Blis. Ternak ayam, tiap hari jualan telor, tidur gak desak-desakan, gak perlu melek siang-malem, makan juga teratur."
"Hehehehe ... Makanya aku sama sekali ndak kepengin ke Jakarta. Cari duit kok susah-susah di desa orang!"
"Tul! Cocok kamu itu!"
"Aslinya, di sini juga prospek, lho! Tinggal pinter-pinternya kita saja."
"Ho oh, Blis. Lha, itu, sapa itu ... mase Nawi ..."
"Giarto? Kenapa?"
"Yo, Giarto! Pulang kerja dari Saudi, selain nerusin usaha agen sembako bapaknya, dia juga bikin pom mini. Modelnya persis pom-nya Pertamina. Terus, Budbud kabarnya juga mau bikin di desa tetangga."
"Waaaahhh ... Josss dong, ndak pake botol-botol Topi Miring lagi."
"Persis pom lah! Beli tiga ribu bisa, lima ribu bisa. Makanya, sekarang pada beli di Giarto. Laris!"
"Cuma kasihan yang jual bensin eceran. Kayak Sarmis dan Miyatun. Mereka sekarang sepi," sergah Kang Lantip.
"Gak masalah, Kang! Namanya juga persaingan. Salah sendiri modalnya kecil!" balas Mudji, si pengangguran anti rekoso, dengan lugas.
Gamblis tertawa kecil usai menyeruput kopinya. Sebatang sigaret nangkring di bibirnya, siap disulut. Tetapi, mendadak seperti ada yang menyentaknya sehingga urung memantik korek.
"Sik, sik. Ngomong-ngomong, tonggomu mau bikin apa itu, Dji?"
"Ooooh ... Si Bakri, to? Mau bikin minimarket, Blis!"
"Ckckckckck ... Jiaaan, elok tenan! Bisnis besinya lancar, punya minimarket lagi. Elok, elok!"
"Tambah elok kalo yang njaga minimarketnya cewek! Huahahahaha."
"Lha, yo kui yang bikin rame! Hahahahaha."
Kang Lantip juga ngakak sampai terbatuk-batuk. Sepertinya dia ngakak untuk nglegani Mudji dan Gamblis, dua vokalis perekonomian kampung itu.
Saya sendiri baru tahu kalo Bakri akan mendirikan minimarket. Bangunannya masih dalam proses. Melihat ukurannya sih, sepertinya bakalan komplit banget isinya. Sepertinya bakalan rame. Bayangkan saja, di kampung ada minimarket. Keren, kan? Orang kampung mana yang nggak mau kelihatan keren? Begitu nyodorin duit ke kasir, langsung keluar struk belanjaan. Kreket ... kreket ... modern ... kreket ... kreket ... kota ... kreket ... kreket ... gaya.
Hmm ... entah gimana nasib warung-warung kecil sekitar, milik Sarmis, Miyatun, Masiyah, Arjumi dan Mak Ntun nanti. Wong belum ada minimarket saja mereka sudah prihatin.
Percakapan tersebut mengingatkan saya pada perdebatan di suatu forum tentang prediksi, isu dan gosip akan kehadiran kapitalis asing di Indonesia. Seru! Makin seru kala melibatkan dua kubu bijak bestari yang hobi serempet-serempetan. Kubu yang satu tidak mempersoalkan kehadiran kapitalis asing karena sudah lazim di era pasar bebas dan bisa membuka banyak lowongan pekerjaan. Sebaliknya, bagi kubu yang lain, kehadiran orang-orang manca itu akan merugikan usaha-usaha wong cilik dan membuat inlander selamanya sebagai jongos. Yang satu mbelo pemerintah, yang lainnya ngelek-ngelek pemerintah.
Saking serunya perdebatan, terlupakanlah bahwa ada kapitalis-kapitalis sawo mateng yang menggencet sesama sawo mateng. Terlupakanlah bahwa ada Giarto dan Bakri yang menghempaskan Sarmis, Miyatun, Masiyah, Arjumi dan Mak Ntun. Terlupakanlah bahwa tak ada toleransi dalam pasar bebas. Terrrr ....

Kamar Krusek, 16 Mei 2016

Fanatisme

D’ACADEMY.
Baik yang menyebali maupun yang menggandrungi, saya yakin pada setubuh kalau saya menyebutkan bahwa D'Academy adalah pemegang durasi terlama untuk kategori kontes pencarian bakat di tivi. Kebangetan kalau Museum Rekor Indonesia (MURI) tidak memasukkan karya anak bangsa ini ke dalam book of record-nya.
Perlu diketahui, saya tidak termasuk ke dalam golongan sebal atau gandrung. Gimana mau sebal atau gandrung, wong saya tidak pernah nonton. Saya cuma mendengar tentang kehebohan D’Academy dari orang-orang di sekitar saya. Termasuk, Yu Marnih.
Sebenarnya, Yu Marnih bukan jenis makhluk penggila dangdut. Sudah tahunan saya setia nongkrong di rumah Kang Lantip, tak sekalipun saya melihat Yu Marnih nonton dangdutan. Tak pernah saya mendengar sigaran nyowo Kang Lantip itu mendendangkan lagu dangdut. Kartu memori HP-nya pun hanya berisi lagu-lagu pop dan foto-foto anak-anaknya.
Satu hal yang menambah keyakinan saya bahwa Yu Marnih bukan jenis makhluk penggila dangdut adalah waktu D’Academy 1 berlangsung, dia tidak pernah nonton. Tetapi, D’Academy 2 membuat Yu Marnih berubah. Sejak awal acara sampai tuntas tengah malam, remote tivi erat dalam genggamannya. Jangan coba-coba mengusiknya. Kang Lantip minta kopi saja tidak digubris. Tak pelak, Kang Lantip jengkel. Dia sembunyikan batere remote, dia hapus channel Indosiar dan apa yang terjadi kemudian? Yu Marnih murka. Perang mulut tak tehindarkan. Hasil akhirnya, Kang Lantip mengalah.
"Gara-gara Irwan mbakyumu itu nganyelke tenan, Par. Maghrib-maghrib sudah nungguin Academy. Tiap hari ngomongin Irwan. Suara tipi kencengnya juga ora umum. Dan yang bikin aku tambah anyel, Irwan nangis, dia ikut nangis. Saipul Jamil ngennyek Irwan, dia misuh-misuh. Ndak enak didengar tonggo, e."
"Bukan cuma Yu Marnih, Kang. Semua ibuk-ibuk di sini juga gitu. Nggak di pasar, nggak di rumah, selalu ngomongin Irwan."
"Ho'oh, Par. Heran aku. Tampang biasa saja, suara juga ndak bagus-bagus amat."
"Itu kan menurut sampeyan, Kang."
"Iyo, sih. Apa karna dia orang Sumenep ya, Par? Jadi panatik gitu."
"Mungkin, Kang. Tapi kita kok nggak ya, Kang? Padahal kita Sumenep juga."
"Panatik ndak mesti pukul rata, Par. Kayak suporter bal-balan itu. Ndak semua orang Malang melu-melu Aremania. Begitu juga ndak semua Bonek sepakat untuk menthungi motor dan mobil plat N."
Yak, masuk akal apa kata Kang Lantip. Yu Marnih nonton D'Academy 2 karena Irwan. Menggandrungi Irwan karena alasan satu tanah kelahiran. Jadi, ketika Irwan tampil, dia tidak sekedar melihat tampang dan mendengarkan suara Irwan saja. Lebih dari itu, dia melihat tanah kelahirannya sedang bertanding melawan daerah-daerah lain. Dengan demikian, dia pasti menginginkan tanah kelahirannya jadi pemenang, sementara daerah-daerah lain jadi pecundang.
Apa bisa fanatisme muncul sesederhana itu? Maybe yes, maybe no. Tergantung pola nalar seseorang. Kalau nalarnya tidak mau ruwet, apa yang sekiranya menarik dan mewakili dirinya, jadilah dia punya fanatisme. Nah, Yu Marnih sama persis dengan mertua saya. Ketika saya tanya kenapa beliau memilih dan mati-matian menyanjung Pak SBY, jawabannya sangat ecek-ecek: "Podo-podo wong Pacitan!" Sederhana kan?
Sehubungan dengan fanatisme tersebut, lain hari Kang Lantip juga cerita:
"Ini lagi, Par. Gara-gara Irwan, aku dengar kabar tukang becak mekso penumpangnya turun setelah tahu kalau penumpangnya orang Banyuwangi. Terus, ada istri minta cerai gara-gara suaminya ndak mau ngirim SMS dukungan buat Irwan. Kata si istri, suaminya sama saja ndak ndukung Sumenep. Panatik tenan to, Par, kalo gitu?"
Dan sekarang Yu Marnih ogah nonton D'Academy 3. Gegojekan Ramzi, Irfan Hakim, Rina Nose, dan Gunarso tak menarik animonya. Dia juga tak pernah lagi seseruan ngobrolin Irwan bersama ibuk-ibuk tetangga. Irwan bukan Irwan Sumenep lagi, melainkan Irwan D'Academy. Kalaupun ada yang seru, ya, hanya kasus layak sensor Saipul jamil itu.
"Mamah, ini lho ada D'Academy 3! Nonton ndak?" teriak Kang Lantip yang sedang pencat-pencet remote.
"Ndak, Pah! Ndak ada yang dari Sumenep, males aku!" balas Yu Marnih tak kalah banter. Dari tadi dia sibuk nggodhok kacang di dapur untuk nyamikan kroni-kroni sang suami yang sebentar lagi datang.
Fanatik! Panatik!

Mengurai ingatan di rumah Kang Lantip, 30 April 2016