Tampilkan postingan dengan label Ora Jelas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ora Jelas. Tampilkan semua postingan

Mudik

PUASA sudah setengah main. Seperti bulan puasa di tahun-tahun kemarin, (untuk menghindari macet) tiba waktu bagi saya dan ibu untuk mudik ke Sukoharjo. Ya, sejak bapak tiada, kami tak pernah lagi merayakan lebaran di Sumenep. Setiada bapak pula ibu cenderung merasa dirinya hanya sebagai perantau dari Sukoharjo yang numpang cari rejeki di Sumenep, bukan lagi sebagai istri yang bersuamikan orang Sumenep. Semua kerabat bapak sih baik dan tetap mengganggap kami keluarga, tetapi mau gimana lagi, wong ibu sudah kadung berperasaan begitu.
Mudik kali ini agak beda. Sedikit spesial. Jika tahun-tahun kemarin naik bus, kali ini ibu nyarter minibus. Itu karena beberapa kerabat bapak ikut mengantar kami. Mereka juga sekalian mau ke Solo, mau ngelencer ke Pasar Klewer dan Keraton Kasunanan.
“Nggak sekalian ke mall, Lik? Di Solo banyak mall-nya, lho. Barangnya ganteng-ganteng.”
“Apa, Par? Emmol?”
“Mall!”
“Iya, emmol. Itu, to, yang tangganya bisa jalan sendiri seperti yang di Surabaya?”
“Ho’oh, yang seperti itu, Lik. Sudah pernah ke mall to, Lik?”
“Sudah. Waktu ikut ziarah ke makam Sunan Ampel mampir ke emmol. Cuma ndak beli apa-apa. Mahal-mahal, e!”
“Di Solo pada mau belanja batik to, Lik?”
“Iya, Par. Di Klewer kan katanya murah-murah. Pulang dari rumah kamu, kami rencana mau mampir ke Klewer dan lihat-lihat kraton. Biar nanti juga bisa cerita sama tetangga.”
Begitulah. Kami berangkat bakda buka, sekira pukul 18.00 WIB. Minibus bergerak dengan kecepatan sedang. Sebelumnya, kami sudah memberi warning pada Tayu, sang sopir, agar tidak ngebut. Pokoknya, biar lambat asal selamat. Pepatah klasik itu tentu bisa kami berlakukan karena naik mobil carteran. Coba naik Sumber Kencono (sekarang mecah rogo jadi Sugeng Rahayu dan Sumber Selamat), paling-paling hanya berharap mudah-mudahan remnya tidak ngeblong.
Karena belum memasuki puncak arus mudik, arus lalu-lintas lancar jaya. Berkali-kali Tayu geleng-geleng kepala melihat bus-bus AKAP saling salip dengan kecepatan super modar. Ada celah sedikit saja langsung nyelonong seakan merekalah sang mbaurekso rimba jalan raya. Jangan coba-coba menghalangi, apalagi menandingi mereka kalau tak punya kemampuan membalap ngedhap-edhapi plus berani toh nyowo. Minibus yang kami tumpangi, juga mobil-mobil lain, bagai ayam sayur yang wajib mengalah.
Malam semakin larut. Tak terdengar lagi cengkerama dari jok belakang. Ibu dan para sedulur sudah mendengkur. Pulas. Ngowoh. Suara tuter, deru mesin dan was-wes-wus laju kendaraan tak mengusik tidur mereka. Perjalanan tampaknya sukses membuat mereka capek. Atau, mungkin mereka memilih untuk tidur ketimbang terus-terusan menjadi saksi mata atas kepongahan seliweran lalu-lintas. Adapun saya, yang duduk di samping Tayu, tidak bisa kliep. Jadinya, ya, menemani Tayu ngobrol, udhat-udhut, ngemil. Padahal, kalau nge-bus, saya gampang terlelap. Tentu setelah membaca ayat kursi sebanyak tujuh kali.
Pukul 03.30 WIB kami masuk wilayah Ngawi.
“Sahur, Yu.”
“Ini tak cari pom dulu. Ndak enak makan sambil jalan.”
Saya membangunkan para penumpang di jok belakang.
Kira-kira tujuh menit kemudian, Tayu membelokkan minibus ke sebuah pom bensin yang hanya toiletnya saja yang benderang. Beberapa mobil box tampak parkir di situ. Alunan ayat-ayat suci timbul-tenggelam di kejauhan.
Kami memang tidak makan sahur di warung, depot atau restoran karena sudah nyangu ayam goreng dan nasi bungkus hasil olah dapur ibu dan Bulik Mawa. Seperti itulah tradisi tak tertulis di kampung kami. Pabila pergi berombongan selalu membawa bekal nasi, ketupat atau lontong lengkap dengan lauk-pauknya, lalu makan bersama di perjalanan. Selain memelihara keguyuban, juga bisa mengirit pengeluaran. Setidaknya pengeluaran untuk makan. Lha wong sudah bukan rahasia lagi kalau makan di warung, depot atau restoran acap bikin kecele. Makanan kurang garam saja harganya setinggi awang-awang.
Saat makan, seorang awak mobil box duduk udhat-udhut di dekat kami. Bulik Mawa menawarinya makan, tetapi dia menolak. Basa-basi, Bulik Mawa menanyainya.
“Muat apa, Mas?”
‘Cat, Buk. Dari pabrik mau dikirim ke agen.”
“Ooo. Cat apa, Mas?”
Si awak mobil box meyebutkan merk yang selama ini pasang iklan di tivi.
“Itu berapaan?”
“Nyampek toko bisa 400-450. Tapi kalau Ibuk mau beli di sini, cuma 300. Beli dua 250-an, Buk.”
Bulik Mawa kelihatannya tertarik. Dia mbujuki ibu agar ikut beli sehingga bisa menekan harga. Eh, tanpa pikir panjang, ibu langsung mengiyakan. Kebetulan rumah di Sukoharjo yang ditempattinggali kakak sudah lama tak terjamah pembaruan cat.
“200 ya, Mas? Ini mbakyu saya juga mau beli.”
“Sepurane, Buk, ndak boleh. 250 sudah ngepres. Mepet!”
Akhirnya, ya sudah, Bulik Mawa dan ibu membelinya. Masing-masing satu ember gede, entah berapa kilo tuh. Saya yang tidak mudeng bisnis dan marketing jadi bertanya-tanya. Masuk ke mana uang penjualan catnya? Ke pabrik, agen atau dompet pribadi? Jangan-jangan terjadi kongkalikong tai kingkong di tingkat akar rumput? Ah, embuhlah … sak karepe kono.
Seiring kumandang imsak, minibus jalan lagi. Masih dengan kecepatan sedang. Tetapi, belum begitu jauh meninggalkan pom bensin, Tayu meminggirkan minibus, lalu mematikan mesin.
“Ada apa, Yu?”
“Ndak tau. Cegatan Dishub, nih.”
Tayu keluar dari minibus. Menemui dua orang petugas dengan seragam atasan warna endog bebek. Lalu, masuk lagi mengambil surat-surat kendaraan. Saat Tayu mengambil surat-surat kendaraan, salah satu petugas mendekat dan menempelkan mukanya ke kaca samping, memeriksa isi minibus. Selain para penumpang, ada empat bantal, satu guling, sekardus air mineral dan beberapa kardus kecil berisi oleh-oleh.
Tayu menyerahkan surat-surat kendaraan pada petugas. Terjadi pembicaraan di antara mereka. Tak terlalu jelas.
“Petugasnya minta 100. Katanya karena bawa kasur harus pakai pick-up. Gimana ini?” tanya Tayu sekembali dari menghadap petugas, sambil melemparkan surat-surat kendaraan ke dasbor.
"Kamu bilang saja bantal-guling, bukan kasur,” jawab saya.
Mudik
Foto Korban
Para penumpang di jok belakang menggeremeng. Sementara itu, Tayu balik lagi menghadap petugas. Tak lama, Tayu memasuki minibus, menjebleskan pintu, menghidupkan mesin.
“Gimana?”
“Ndak bisa. Mereka tetep ngotot. Daripada panjang urusannya, tak kasih 70, Par.”
Sejenak, minibus berubah jadi kebun binatang yang segala isinya terlamatkan ke dua orang petugas Dinas Perhubungan itu. Maklum, sebuta-butanya wong ndeso pada pasal-pasal, tetapi masih bisa membedakan mana kasur, mana bantal dan guling. Lagian, kalaupun memang memuat kasur, apa itu termasuk pelanggaran? Kalau iya, kenapa bus dan mobil lain lolos pemeriksaan? Bisa saja kan mereka membawa kasur.
Hmm. Saya pikir, kami ketiban apes. Apes di jalan raya bukan perkara celaka saja, melainkan juga kena sasar oknum-oknum kelaparan. Lalu, saya pikir-pikir lagi kalau petugas-petugas nggapleki itu adalah jelmaan bajang kerek setan alas pilih tanding yang lepas dari belenggu bulan puasa. Sengaja ngaton di depan kami untuk mengetes apakah kami termasuk golongan manusia cinta damai atau manusia pembela kebenaran. Terbukti, kami lebih mencintai kedamaian ketimbang membela kebenaran yang nyata-nyata benar.

Sukoharjo Makmur, 18 Juni 2016

Rebutan Murid

DALAM hitungan hari, tahun pelajaran lama akan berakhir. Bagi yang naik kelas saya ucapkan selamat. Sedangkan bagi yang tinggal kelas tidak perlu sedu-sedan meratapi kegagalan, apalagi sampai membakar raport atau mengobrak-abrik sekolah. Tetaplah berperilaku sopan lagi jantan. Toh, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri di tahun pelajaran baru.
Ngomongin tahun pelajaran baru sama artinya ngomongin penerimaan murid baru. Nah, pada penerimaan murid baru tahun ini, Kang Lantip dan Yu Marnih memutuskan untuk menyekolahkan anak ragil mereka, Rizky Aditya. Tahun ini jagoan mbeling itu berusia tujuh tahun.
"Jadinya Adit mau dimasukin ke mana, Kang?"
"Entah, Par. Aku bingung. Sama-sama perkewuh, nih."
Saya manggut-manggut.
"Lha, SD I, SD II dan MI yang baru berdiri itu sama-sama ngasih seragam dan buku e. Kepala sekolahnya yang ngasih langsung. Perkewuhnya itu, aku kenal baik sama mereka bertiga."
"Sama mbaknya saja, Kang, di SD I. Biar ada yang ngemong."
"Kayak anjing dan kucing gitu kok mau satu SD."
 "Terus gimana, Kang?"
"Tak putuske nanti saja, Par. Terpaksa yang ndak kupilih seragam dan bukunya tak kembaliin. Tapi jelas aku ndak milih SD I."
"Makin mbingungke saja sekolah sekarang ya, Kang."
"Kamu itu kayak ndak tau saja, Par. Sekolah-sekolah sekarang, ya, kayak gitu. Sama-sama cari murid. Mau anaknya pekok, mau keranjingan, ndak ada urusan, yang penting dapat murid."
"Iya, Kang. Tahun kemarin, kepala sekolahku nyuruh tiap guru, kalau bisa, bawa satu murid baru."
"Itu belum seberapa, Par. Sekolah lain malah ada yang ngasih bonus kambing sama calon murid yang mau masuk ke situ. Ada juga yang menghargai per murid barunya 250 ribu."
"Parah, parah ..."
"Memang parah, Par. Yaaah, demi dana bantuan dan tunjangan sertifikasi, Par. Apa lagi coba kalok bukan karna itu? Dua-duanya kan tergantung jumlah murid. Kalok di kota, yang penduduknya padat, ndak jadi soal. Tapi di sini, wong lebih banyak sekolahannya ketimbang muridnya."
"Soal tunjangan sertifikasi sih iya, Kang. Tapi demi dana bantuan mosok sampai segitunya?"
"Lha, buktinya pada rebutan murid gitu kok. Buat apa rebutan murid, ngemis-ngemis murid, kalok ndak ada udang di balik batunya? Ah, kamu ini, masih pura-pura ndak tau saja, Par."
"Dana bantuannya mosok mau dikorupsi, Kang? Jatuhnya kan buat mbangun sekolah juga."
"Embuh kalok itu, Par. Aku ndak mau jawab. Tanya saja sama kasekmu yang mobilnya kinclong itu!"
Saya melihat jam di henpon. 17.10. Sebentar lagi buka puasa.
"Pamit dulu, Kang. Sudah mau buka, nih."
"Buka di sini saja, Par. Mbakyumu lagi beli es campur. Sik, tunggu dulu!"
Kang Lantip tergopoh marani Yu Marnih di warung es campur depan rumah. Barangkali mau nyuruh beli satu plastik lagi untuk saya. Tak lama, tampak Yu Marnih dan Purnama memasuki halaman rumah. Masing-masing menenteng empat dan tiga plastik es campur. Ibu-beranak itu langsung menuju dapur. Kang Lantip kembali duduk di sebelah saya.
"Sik, Par, mbakyumu lagi nyuntaki es ke gelas. Kamu pulang juga nanggung. Tinggal enam menitan kok."
Jadilah hari ini saya berbuka puasa di rumah Kang Lantip. Bersama tuan-nyonya rumah, Cahya, Bulan, Purnama dan Rizky Aditya, sang primadona yang jadi rebutan tiga sekolah itu, saya reriungan menyantap hidangan buka puasa. Ala kadarnya, tetapi nikmat luar biasa.

Kamar Krusek, 9 Juni 2016 

Anti Tembakau Sak Dunia

Anti Tembakau Sak Dunia
SUMPAH, saya baru tahu kalau tanggal 31 Mei adalah Hari Anti Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Itupun setelah saya baca artikel di beberapa website. Aduh duh, saya tiba-tiba merasa tambah katrok dan tambah ndeso. Sebab, amat tak pantas bagi manusia dengan jatah wi-fi gratis seperti saya ketinggalan warta.
Maka, untuk mengurangi kekatrokan dan kendesoan saya, saya akan membuat postingan terkait Hari Anti Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Tentu, postingan yang tak terjamin mutunya. Wong katrok dan ndeso kok bikin postingan bermutu, imposibbellah.
Jadi, begini. Menurut Wikipedia, Hari Anti Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day) merupakan gerakan yang menyeru para ahli hisap rokok agar puasa rokok selama 24 jam serentak di seluruh dunia pada tanggal 31 Mei. Selain itu, untuk menarik perhatian dunia mengenai raja lela kebiasaan merokok dan dampak buruknya terhadap kesehatan. Dari namanya saya haqqul yakin kalau pencetusnya adalah orang-orang atau lembaga yang tidak merokok. Tetapi, saya melihat ada ketidakberesan. Lha, katanya anti tembakau, kok yang jadi sasaran tembak para ahli hisap rokok saja. Tidak adil noh! Harusnya mbah-mbah yang hobi nginang juga kena dor. Mereka kan pakai bako susur (bahasa Indonesianya apa, ya?).
Seperti biasa, setiap ada hari peringatan pasti ada demo. Untuk demo Hari Anti Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day), sesuai yang saya baca, berlangsung aman dan damai. Soal pro rokok dan kontra rokok, biasalah. Hanya saja, saya pikir mereka salah tempat dan salah aksi. Yang pro, mbok jangan cuma orasi dan angkat-angkat tulisan saja. Bagi-bagi rokok gratis dong, biar tidak no action talk only. Terus, udhut bareng-bareng, ngopi bareng-bareng, so pasti demonya gayeng. Sedangkan yang kontra, demo ke pabrik rokok, juragan tembakau dan petani tembakau saja agar suara hati sampeyan terdengar langsung. Lha, kalau cuma demo di tempat-tempat umum mana bisa mereka dengar. Tambah sip kalau sampeyan yang kontra sudi bikin inovasi tembakau sebagai subtitusi rokok. Jangan mahal-mahal harganya lho! Hari gini inovasi kok mahal, kuno!
Terlepas dari pro-kontra tersebut, jujur, saya adalah ahli hisap rokok (nulis postingan ini saja saya sambil ngerokok dan ngopi). Meski demikian, saya punya pengertian dan toleransi yang tinggi. Misalnya, tidak merokok saat isi bensin, saat bersama anak-istri dan saat berada di ruangan ber-AC. Melihat orang terganggu oleh asap rokok, saya juga lekas-lekas nyeccek rokok, matiin rokok. Perkara nanti sepi, ya, saya sulut kembali puntung rokoknya. Eman-eman, e, masih panjang.
"Merokok merugikan kesehatan, Mas!"
Iya, saya tahu. Selain kesehatan, juga merugikan isi kantong.
"Kenapa masih merokok?"
Asal sampeyan tahu, orang mau berhenti merokok harus nunggu hidayah. Kalau cuma peringatan MEROKOK MERUGIKAN KESEHATAN atau bahkan MEROKOK MEMBUNUHMU dengan gambar-gambar njijiki mah tidak akan menginsyafkan ahli hisap rokok. Tentang hal ini, saya punya cerita, asli bukan rekayasa. Ceritanya, saya punya tetangga. Rumah beliau sekitar limapuluh meteran dari rumah saya. Saya memanggil beliau Pakdhe Addus. Beliau mengidap penyakit yang rentan akan asap rokok, yaitu mengguk alias asma kambuhan. Belasan kali ke dokter, belasan kali kali pula dokter bilang, "Settop ngerokoknya, Pak!" Istri, anak, mantu dan cucu-cucunya pun wanti-wanti agar menyudahi kebiasaan merokok. Tetapi, beliau selalu menjawab, "Lebih baik sakit, ketimbang saya berhenti ngerokok." Soal mati, menurut beliau, soal takdir. Orang tidak merokok pun bisa sakit dan pasti akan mati.
Anti Tembakau Sak Dunia
Di atas, saya juga mengatakan merokok dapat merugikan isi kantong. Tetapi, bagi ahli hisap rokok lagi-lagi bukan problem serius selama bisa mengendalikan berapa bungkus / batang rokok yang akan dihabiskan dalam sehari-semalam sambil menunggu hidayah no smoking. Mereka juga mesti pandai-pandai menyisihkan pendapatan; mana untuk rokok, mana untuk belanja, mana untuk tabungan dan mana untuk anak-istri. Selain itu, sebagaimana yang dikatakan oleh antek-antek saya, sering kali rokok itu sudah ada rejekinya sendiri. Istilah proseduralnya, sudah ada uang rokoknya. Contoh, ketika orang menyuruh saya untuk ngedit foto, bikin undangan atau bantuin bikin makalah, selain ngasih upah berupa uang, dia juga ngasih uang khusus untuk beli rokok.
"Halah, dasar tukang udhut kebanyakan alasan!"
Tolong, do'akan saya dapat hidayah, ya. Pliiiiss, jangan cuma menghujat! Lagian, percuma menghujat. Lha wong ahli hisap rokok itu ngeyelan. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan.
Nah, sebelum saya akhiri postingan, saya juga tidak mau kok generasi masa depan nyandu rokok. Cukup kami-kami ini saja, generasi jago kapuk tak tahu diri. Sayangnya, muda-mudi sekarang malah pada udhat-udhut, klepas-klepus supaya kelihatan gaul dan keren. Ealah, apa mereka tidak tahu kalau abab dan keringat saya bau tembakau, ya? Saya sendiri sampai hoek-hoek nyium ketek. Padahal, saya rajin mandi, gosok gigi, kumur-kumur pakai Listerine yang mbledhos dalam mulut itu dan pakai deodorant. Jadi, buat genduk-genduk dan thole-thole tersayang, kagak usah ngerokok dan jangan ketipu iklan-iklan rokok dengan pemeran gagah lagi sukses itu. Lebih-lebih, kalian masih minta duit orang tua. Mambu bako kok keren! Bikin boyband atau girlband saja, itu baru keren.
Sudah dulu, ya. Kapan-kapan ketemu lagi. Yuk, cerio!
Sleddddduppppp, ssssssshhhhh, puuuussssssh ... Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Kamar Krusek, 31 Mei 2016

Cocotan Tentang Puasa, H-7 dan H+7

TAK terasa sebentar lagi bulan puasa. Sejak tahun dal orang-orang menyebutnya sebagai bulan penuh berkah di mana pahala segala amal ibadah jadi lipat ganda. Jangankan tarawih, tadarus dan iktikaf, bobok siang saja memperoleh ganjaran pahala. Maka, bagi yang males tarawih, tadarus dan iktikaf cukup pakai ilmunya mBah Surip: banguuuuuun, tid-dur lagi!
Sependek ingatan saya, sebuah fenomena yang terjadi di setiap awal bulan puasa adalah boleh tidak warung makan buka siang hari. Yang membolehkan punya alasan si pemilik warung makan butuh nafkah, sedangkan yang tidak membolehkan punya alasan warung makan adalah salah satu godaan yang tidak menghormati para pelaku ibadah puasa. Demi melestarikan bhinneka tunggal ika, lantas muncul inisiatif warung makan boleh buka asal semi tertutup.
Sungguh heran, kok bisa-bisanya masalah sak upil itu bisa jadi bahan laten debat kusir. Mbok mikir yang simpel-simpel saja. Yang puasa tidak usah ngoyo cari penghormatan (memangnya bendera?). Namanya puasa, ibadah, pasti tak luput dari godaan. Justru ganjaran pahalanya berasal dari kemampuan menahan dan melepaskan diri dari godaan kan. Tetapi, yang tidak puasa juga jangan kemaki dan kemlinthi. Silahkan makan, minum dan udhat-udhut asal niatnya tulus ikhlas untuk ngisi perut dan ngobati cangkem yang kecut. Artinya, tanpa ada niat untuk ngece bin mingin-mingini binti mrovokatori orang yang puasa.
Semoga tahun ini pakar-pakar debat kusir tidak mempersoalkan hal itu lagi sehingga bulan puasa benar-benar bebas dari ontran-ontran. Kalau masih kebelet adu argumen, cari topik lain yang lebih pantes. Misalnya, es dawet terenak untuk buka puasa adalah yang pakai dawet tanpa es atau yang pakai es tanpa dawet.
Selain sebagai bulan penuh berkah, ada juga yang menyebut bulan puasa sebagai bulan untuk melatih kepekaan sosial (baca: keprihatinan). Biar si kaya merasakan kefakiran si miskin, biar si kenyang merasakan kriuk perut si lapar. Tetapi faktanya? Menurut saya sih, no! Malah lebih tampak ngece mereka yang miskin dan sepanjang tahun berkutat dengan lapar. Coba lihat, begitu bedug maghrib duk druk duk duk, atas nama sunnah "berbukalah dengan yang manis-manis", es dawet, es setrup, es cao, klepon, getuk, onde-onde, pentol bakso, kolak, gedang goreng, tahu susur, pastel dan nasi lengkap dengan lauk-pauknya tersaji mentereng di atas meja makan. Semuanya pun tandas untuk buka puasa. Tidak sampai di situ saja, mau berangkat tarawih ngemil dulu, pulang tarawih e e e e e masih ngembat makanan lagi. Belum sahurnya kepengin anu dan anu. Pokoknya, gragas tidak masalah, yang penting besok kuat puasanya. Jadi, jangan surpres kalau lepas bulan puasa pada bilang, "Habis puasa aku kok tambah gendut, ya?"
Barangkali perilaku konsumeristik saat puasa tersebut yang mengakibatkan naiknya harga-harga. Buktinya, iwak pitik dan iwak sapi mesti naik harganya setiap bulan puasa, terutama menjelang lebaran. Ujung-ujungnya, ongkos mudik juga ikut-ikutan naik.
Terkait dengan mudik, bulik saya bilang, "Ora mulih, ora bakdhan karo sedulur. Mulih, ongkos bis mundak." Sebagai pedagang gurem di perantauan, saya rasa wajar dia bilang begitu. Celengannya selama 11 bulan bisa habis hanya untuk ongkos saja (belum untuk oleh-oleh, belum untuk mitrahi keponakan-keponakan). Lha, H-7 sampai H+7 ongkos odong-odong sampai ongkos bis gila-gilaan je. Yak, bagi kendaraan umum lebaran tak lebih dari ladang meraup untung sebanyak-banyaknya. Apalagi, yang narik ongkos orangnya seculas setan, wadaw, wadaw ... bisa sampai seratus persen naiknya. Begitu penumpang tanya, dengan tengik sang tukang tarik ongkos menjawab, "Ini lebaran, ongkosnya naik! Kagak mau, turun aja!" Si penumpang pun hanya bisa terpaksa mengikhlaskan. Buat mudiker-mudiker banyak duit sih no problemo. Tetapi, buat mudiker tongpes semacam bulik saya, remuk redamlah. Maunya maaf lahir-batin, tahu-tahu sengsoro lahir-batin. Sepertinya perlu demo besar-besaran seperti saat menentang kenaikan BBM. Lha, BBM naik saja ongkosnya tidak gila-gila amat e.
Sampai sekarang saya tidak paham kenapa pemerintah memberikan tuslah, menetapkan tarif atas tarif bawah yang justru membuka peluang perbuatan curang, tega dan nggilani sepanjang H-7 sampai H+7. Mbok nyontoh itu lho, Matahari yang berani memberikan diskon sampai 50% plus 20%. Atau seperti Sido Muncul yang menggratiskan mudik bakul-bakul jamu.
"Ah, setahun sekali mundak ra popo, mas!"
Ndasmu!

Warnet Pelangi, 28 Mei 2016