Tampilkan postingan dengan label Kawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kawan. Tampilkan semua postingan

Bagong Sang Ketua Tingkat

DI postingan terdahulu sudah saya singgung nama Bagong. Nama ini julukan sekaligus panggilan saja. Nama KTP-nya sengaja saya rahasiakan demi menghindari pencatutan nama.
Dia adalah kawan kuliah saya yang paling akrab. Jabatannya bukan main: ketua tingkat. Saya katakan bukan main karena dia, dalam pandangan saya, tak punya tampang pemimpin blas. Saya heran kenapa kawan-kawan memilih laki-laki pendek, berperut mblenduk, jauh dari rupawan, pemuja voting, saat presentasi ngomongnya blekak-blekuk, ora modis, anti celana jins dan cengengesan itu. Kelebihannya cuma satu: bersedia dipilih.
Kami punya kesamaan hobi: doyan mimik ciu. Nyaris setiap hari, sehabis kuliah, kami urunan, pergi ke Sekar Pace, beli sebotol ciu oplosan. Kalau ada duit lebih, beli gepengan. Lalu, balik ke kampus, cari tempat sepi, glak-glek berdua. Kadang mengajak kenalan yang sehobi dengan kami.
Kami menggelar hobi itu secara sembunyi-sembunyi. Tidak enak bila ketahuan kawan-kawan seprogram-seangkatan. Apalagi Bagong ketua tingkat.
"Umpomo aku bukan kating, ora masalah mereka tahu. Kadung kepilih begini, mau tidak mau mesti sedikit jaim. Aku takut mengecewakan mereka."
Tak hanya di kampus, kami juga menggelar hobi itu saat KKL. Ke mana pun KKL-nya, tak pernah lupa membawa ciu. Semakin jauh, semakin banyak stoknya.
Suatu kali, angkatan kami mengadakan kunjungan ke Candi Sukuh, sebuah candi yang terletak di kaki Gunung Lawu. Amat cocok bila sambil minum anget-anget. Maka, sebelum berangkat kami ke Sekar Pace dulu. Sebotol ciu pun siap menemani.
Setelah membuat catatan-catatan penting dan mengambil foto dokumentasi, sesi selanjutnya jalan-jalan ke hutan di sekitar candi. Bagong menarik lengan saya.
"Mlaku keri wae. Ndi ciune?"
Saya mengambil botol ciu dari dalam tas dan mengulungkannya pada Bagong. "Nyoh!"
"Tak prawani sik, yo." Bagong membuka tutup botol dan menenggak isinya. Glegek. Matanya kier-kier menahan terjangan alkohol. Lalu, giliran saya. Glegek. Bagong lagi. Glegek. Botol sebentar-sebentar berpindah tangan. Mulut kebal-kebul asap rokok.
Jam 12 semua kembali ke pendopo dekat candi. Ngaso sebentar sebelum sholat dzuhur. Tak lama kemudian kawan-kawan berjalan ke masjid di bawah pendopo. Saya mencolek Bagong.
"Sholat, ora?"
"Penake piye?"
"Ha embuh. Ditakoni malah takon."
Bagong diam. Berpikir.
"Yo, wis. Ayo."
"Ayo nyang ngendi?"
"Sholat noh!"
"Kowe ki goblok opo pekok, Gong? Awake dewe bar ngombe!"
"Wooo, Cah Gendeng! Mau takon sholat opo ora. Bareng tak ajak sholat gek nggoblok-nggoblokke uwong. Gek ayo!"
"Ngombe ciu lho, Gong! Ciu! Sholat opo yo patut?"
"Tak kandani yo, Par. Selama pikirane sadar, ora edhan, tetep sah! Boleh sholat."
"Jare sopo?"
"Halah, rasah crigis. Gek ayo! Tak tinggal lho!"
Lekas-lekas kami ke masjid. Ambil wudhu, masuk masjid. Kawan-kawan mulai menyusun shaf, namun saling tunjuk untuk mengimami sholat. Bagong berdehem.
"Lha, iki katinge. Pak Kating wae sing ngimami. Ayo, Gong!"
Tanpa ragu Bagong maju. Langkahnya amat pede. Sejenak dia meneliti makmum. "Shaf dirapikan," ujarnya mantap. Dia lantas memulai sholat.
Sungguh, kali itu adalah sholat berjamaah terlama yang pernah saya ikuti. Lutut sampai gemetaran. Pikiran berkecamuk. Hati ngomel-ngomel.
Kembali ke pendopo, saya tanya Bagong, "Kowe mau moco opo to, Gong? Suwene ora jamak."
Bagong nyekikik pelan.
"Ora moco opo-opo."
"Al-Fatihah?"
"Yo, ora."
"Wooo, imam koclok!"
"Mung tak gawe suwe wae, ben ketok sholate khusyuk. Karo ngampet ngguyu. Lha, asline aku yo bimbang. Cangkem mambu ciu kok sholat."
"Hajindul! Tadi kok ngajak sholat? Kok jadi imam?"
Bagong nyekikik lagi.
"Gak enak noh. Yang lain sholat, mosok kating gak sholat."
"Yo rasah kemlinthi dadi imam. Pikiren makmummu, Gong. Gimana nasib sholat mereka jal? Yen sholatku ngono karuan mung mergo setia kawan."
"Sssssttt ... Menengo. Jangan bilang siapa-siapa. Mugi-mugi Gusti Alloh ngijabahi."
"Aishh!"
"Hehehehehe."

Sukoharjo Makmur, 7 Juli 2016

Merindukan Ramadhan

PULANG Jum'atan, Tiyono mampir ke rumah karibnya, Jumali. Biasa, ngobrol ngalor ngidul ngetan bali ngulon sambil nyawang keramaian jalan. Dan obrolan kali ini tak meleset dari soal lebaran yang tinggal menghitung hari.
"Dah beli baju lebaran, Nok?"
"Ora, Jum. Lebaran lalu sudah beli. Masih layak pake."
"Sama, Nok. Aku cuma mbeliin ponakan-ponakan thok."
"Aku juga, Jum. Ora ketang mung kaos bal-balan aku yo nukokne ponakan."
"Lebaran itu yang paling seneng cuma para bocah, ya Nok. Kayak ponakan-ponakan kita. Baju, sandal, sarung, peci, celana, semua serba baru. Banyak kuweh. Ke sana ke mari dapat jatah amplop. Kalo kita ya biasa-biasa saja. Habis shalat Id dan keliling maaf-maafan, kalok ndak tidur, ya nongkrong di pinggir jalan."
"Malah lebih enak bulan puasanya, Jum. Gimana gitu rasanya. Biarpun ndak pernah traweh dan ndarus, hari-hari jadi ada seninya."
"Ho'oh, Nok. Habis Ramadhan aku jadi rumongso kelangan. Kalo kamu piye, Nok?"
"Sama, Jum. Kukira bukan cuma aku dan kamu saja yang begitu. Setiap muslim pasti merasa kehilangan dan merindukan Ramadhan."
"Mangkanya aku heran sama spanduk-spanduk itu, Nok."
"Spanduk? Spanduk yang mana, Jum?"
"Itu, spanduk ucapan 'Selamat Merayakan Hari Kemenangan', 'Selamat Merayakan Lebaran' dan sak macemme."
"Weh, rak yo bener to, Jum? Kan habis nahan napsu, nggak makan nggak minum, sebulan penuh. Ibarat berpayah-payah mengikuti Ujian Nasional, akhirnya bisa lulus. Sah-sah saja to kalok kemudian merayakannya."
"Jangan samakan dengan ujian, Nok! Maksudku gini lho, Nok ..."
"Halah ... Kamu itu gampang sinis, Jum."
"Sinis mbahmu, Nok! Dengar dulu ..."
"Piye? Piye?"
"Selesai Ramadhan kan pada kepengin ketemu Ramadhan lagi. Pada kangen sama Ramadhan. Lha mosok ditinggal sesuatu yang bikin kepengin dan bikin kangen kok malah spanduknya begitu. Nyuruh raya-raya, seneng-seneng. Ironi kan! Kesannya aneh bin lucu! Coba kamu ditinggal minggat pacar yang kamu cintai, mesti sedih to? Mesti nangis to, Nok?"
"Ooo, maksudmu umat Islam harus nangis karena Ramadhan sudah lewat? Begitu, Jum?"
"Harusnya begitu bunyi spanduknya, Nok! Berbau-bau tangis kerinduan akan Ramadhan."
"Nggak cocok to, Jum, kalo spanduk lebaran isinya soal menangisi Ramadhan. Mosok 'Selamat Menangisi Kepergian Ramadhan', rak yo wagu, Jum. Kenyataannya juga cuma orang-orang istimewa saja yang sungguh-sungguh bisa begitu."
"Kita ini lebaran kan biasa-biasa saja. Ndak ada seneng-senengnya babar blas!"
"Biasa-biasa saja bukan berarti nggak merayakan, Jum. Caranya saja yang beda."
"Tetap ndak merayakan namanya, Nok!"
"Halah ... Halah ... Jum, Jum ... Memang kamu nangis ditinggal Ramadhan? Habis puasa masih gitu-gitu saja kelakuanmu kok. Mbok coba besok lebaran ada yang nraktir kamu melancong, pasti kamu seneng to? Raya-raya juga to?"
Jumali cengengas-cengenges. "Yo, seneng, Nok, Nok. Rejeki kok ditolak!"
"Kamu itu ... Mau ngirit saja pake bawa-bawa spanduk lebaran, Jum!"
"He-he-he-he ... Jelas ngirit to, Nok. Kalo ndak, habis hura-hura pas lebaran, besoknya aku bisa banyak utang!"
Tiyono garuk-garuk rambut.
"Yen soal ngirit, aku juga ngirit sih. Lha, lebaran, apa-apa mahal, e. Es teh saja jadi empat ribu. Mending di rumah."
"Woooo, jebule ..."
Dua manusia karib itu tertawa bersama-sama. Ngeklek-ngeklek.

Sukoharjo Makmur, 1 Juli 2016

Ngabuburit

BULAN puasa tak lepas dari ngabuburit, beraktifitas santai untuk menunggu bedug maghrib. Terhitung sejak dua hari tiba di Sukoharjo, saya juga ngabuburit. Ngabuburitnya tidak ke mall, wifian, cari takjil, yang-yangan atau trek-trekan, melainkan ikut jualan Mardadik, seorang tetangga dekat rumah.
Profesi Mardadik memang bakul, penjual. Tepatnya, penjual mainan anak-anak. Sehari-hari dia menjajakan jualannya pada anak-anak SD. Tetapi, karena lagi musim libur sekolah, saban sore dia ganti menyasar TPA-TPA.
Ngabuburit
Melihat gambar di atas, barangkali sampeyan berpikir mainan embyeh-embyeh itu takkan laku. Sudah tidak njaman di era kuota internet yang serba kekinian. Semula saya juga berpikir seperti itu. Tetapi, ternyata saya salah. Anak-anak TPA tetap antusias membelinya meskipun (boleh jadi) mereka punya smartphone di rumah dan mahir mengoperasikan segala macem aplikasinya.
Saya seperti tersadarkan bahwa anak-anak tetaplah anak-anak. Mainan, apapun itu, adalah hiburan dan animo mereka. Tetap menarik dan membuat penasaran jiwa unyu mereka. Sisi inilah yang coba dimanfaatkan oleh Mardadik sebagai lahan mencari rejeki.
"Sejak kapan kamu jualan mainan, Dik?"
"Sudah lama, Par."
"Critanya gimana kok kamu bisa jualan mainan?"
"Keluar dari pabrik triplek aku kan nganggur. Suatu hari, waktu ndasku mumet karna ndak ada pemasukan, aku ngonthel ke Wonogiri. E, ndilalah, nglewati SD aku lihat ada yang jual mainan. Rame! Lalu tak pikir-pikir, aku jualan mainan saja."
"Apa nggak lebih enak kerja di pabrik to, Dik? Pabriknya juga dekat. Cuma sak enyukan kok."
"Yang jadi setap di kantornya enak. Lha, aku? Mung buruh kasare! Sudah gajinya ndak seberapa, paru-paruku juga sesak. Aku ndak betah."
Ngabuburit
Menurut amatan saya, jualan Mardadik laku. Laris manis. Padahal, mainannya itu-itu saja. Nyatanya anak yang kemarin beli mainan A, seakan tak bosan, hari ini masih beli mainan yang sama. Kadang ada yang mesan mainan tertentu yang dengan senang hati Mardadik penuhi. Saban sore, dia menjelma gula-gula yang dirubung anak-anak TPA.
Mardadik mengaku bisa membawa pulang duit 100-120 ribu dan penghasilan bersihnya mencapai 70%. Dengan jam kerja yang cukup singkat, berangkat pukul tiga sore, pulang pukul lima sore, penghasilannya tergolong lumayan kendati tak sebesar penghasilan Suwarsi cs. Tak perlu kemringet, tak perlu modal otot. Jarak tempuhnya pun tak sampai menghabiskan bensin seliter.
Menganut paham sedikit demi sedikit jadi bukit dan hemat pangkal kaya, Mardadik menabung sebagian penghasilannya. Menabungnya bukan di bank. Cukup ditaruh di dalam kotak saktinya. Dia adalah tipikal manusia yang sama sekali tak percaya pada bank.
"Katanya dapat bunga, tapi tiap bulan kok dipotong? Ora masuk akal to? Gedebhus!" begitu pendapatnya tentang bank.
Kuncinya, kata Mardadik, harus menahan diri. Tidak boros dan tidak mudah tergiur. Mewah dan nggaya tidak penting. Kaos duapuluh ribu dan kaos duaratus ribu takkan ada bedanya jika sudah nempel di badan. Makan tempe-tahu atau makan iwak-iwakan, besok pagi sama-sama moncrot jadi tai.
"Percuma kerja kalo ndak punya tabungan babar blas. Ujung-ujungnya ndak akan punya apa-apa."
Berkat keuletan dan prinsipnya itu, Mardadik menuai hasil. Dia punya motor Mio gress dan berhasil mewujudkan salah satu impiannya: membangun toko. Tiga toko sudah berdiri, berderet, di samping rumahnya. Sudah terisi semuanya. Per toko dia sewakan lima juta per tahun.
Dan lewat mainan-mainannya, Mardadik masih terus mengejar impian-impiannya ...

Sukoharjo Makmur, 23 Juni 2016

Suntikan Silikon

SUATU malam Markasan main ke rumah Kang Lantip. Dia dari desa sebelah. Sehari-hari dia menekuni profesi sebagai tukang cukur. Berbagai model potongan rambut dia kuasai dengan ciamik. Keahliannya mencukur bahkan sudah kondang kaloka sak kecamatan.
Meski usianya sudah menyentuh angka 45, Markasan masih setia membujang. Masih kepengin merdeka, katanya. Padahal, adiknya sudah punya mantu dan baru saja punya cucu. Karenanya, kawan-kawannya acap meledek kalau jodohnya sudah mati dalam kandungan sehingga sampai akhir hayat pun dia takkan pernah menikah.
Menikah, siapa pun tahu, kalau salah satu tujuannya supaya bisa kenthu. Nah, untuk urusan satu itu, Markasan memilih untuk jajan jemblem-nya lonthe kompleks atau lonthe panggilan atau salah satu pelanggan perempuannya yang kebetulan punya tabiat nakal. Asal cocok sama seleranya, dia takkan segan merogoh kocek dalam-dalam. Umpama lagi bepergian ke suatu tempat, satu program penting takkan dia lewati, yaitu wisata lendir dan jelajah lokalisasi.
"Opo kui, San?" tanya Mudji saat melihat Markasan mengeluarkan botol berisi cairan kekuningan dari balik jaketnya.
Markasan tak mempedulikan Mudji. Dia tenggak cairan kekuningan itu dengan nikmat hingga tinggal setengah botol. Mudji dan Kang Lantip melihat dengan takjub.
"Aaaaah ... geeerrrr. Enak tenan," kata Markasan mengakhiri minumnya. Telapak tangan kanannya mengelap bibirnya yang basah. Setelah itu, dia menyelinapkan botol ke balik jaketnya.
"Itu apa, San?" sekarang Kang Lantip yang bertanya.
"Ramuan."
"Lha iyo, ramuan opo? Kayaknya seger bener? Coba tak lihat."
Mewakili rasa penasaran Kang Lantip, Mudji bergerak cepat mencuri botol itu dari balik jaket Markasan yang ternyata resletingnya masih terbuka. Markasan geragapan, berusaha merebut botol dari genggaman Mudji. Tetapi, Mudji lekas menjauh, membuka tutup botol dan mencium isinya. Begitu bisa menebak apa isinya, Mudji cekikikan. Maklum, Mudji tahu betul seluk-beluk Markasan. Mudji juga punya kebiasaan jajan, sama seperti Markasan.
"Yongalah, San, San, tak kira apa. Binahong, to?"
"Memang kamu sakit apa, San, sampe nyangu binahong segala?"
"Nggak papa, Tip. Biar seger aja. Kerjaku kan berdiri terus seharian. Otot-otot jadi pada pegel."
"Alah, ndak mungkin. Pegel-pegel, ya, pijet."
"Dibilangin nggak percaya, to. Ngeyel kamu, Tip!"
Mudji mesam-mesem.
"Paling-paling itu, Kang, dia takut tititnya mbledhos. Iyo, ora, San? Ngaku wae!"
"Iyo, yo. Dengar-dengar, tititmu silikonan to, San? Bahaya itu!"
Markasan tak bisa mengelak. Dia cengar-cengir seperti bocah ketahuan nyolong permen.
"Gimana aku nggak takut, lha yang dulu suntik bareng aku pada kena stroke. Satu orang malah opname. Tititnya infeksi. Mangkanya, aku rutin minum binahong buat pencegahan."
"Kuapok! Kamu tak bilangin nggak mau sih."
"Kirain nggak ngefek apa-apa, Dji. Aku, yo, ngikut itu, nyuntik titit."
"Kamu yang pekok! Namanya akal-akalan mesti ngefek. Apalagi yang nyuntik cuma tukang mancing."
"Haesh, kamu itu malah mekok-mekokke aku, Dji. Teman lagi susah malah dipekok-pekokke."
"Mau gimana lagi? Mau operasi? Duitmu banyak, mau operasi?"
"Ojo sampek, Dji!"
"Opo penake punya titit gede to, San?" sela Kang Lantip.
"Weh, kamu nggak tau rasanya sih, Tip. Muanteppp! Cucuk mbayar lonthene!"
"Mantep cangkemmu, San!" sergah Mudji, "wong sekali ketanggor tititmu, besoknya pada sambat sakit kok."
Markasan ngakak. Mungkin bangga sudah berhasil bikin keok lonthe yang dia keloni.
"Opo iyo, San?"
"Ho'oh, Tip. Mirip sekok motor, e."
"Asu! Gede tenan!"
"Waktu itu suntikannya lima titik. Mangkanya, gueddi!"
"Gede, sih, gede. Tapi bentar lagi kamu nggak akan bisa ngaceng! Impoten!"
"Itu juga yang kupikirin, Dji. Mudah-mudahan nggak ya, Dji, Tip ... Gawat, e, nggak bisa ngaceng."
"Ha embuh. Itu masalahmu. Salah sendiri main suntik-suntikan."
Sekali lagi, Markasan menenggak cairan binahongnya hingga tandas. Botolnya yang kosong dia lempar ke jalan, klothak-klothak membentur aspal.
"Seger, San? Hehehehe ..." Mudji cengengesan.
Markasan menoleh.
"Jancok kamu, Dji!"

Kamar Krusek, 7 Mei 2015
Tulisan ini hasil nemu saat mengulik folder-folder di laptop. 

Pada Suatu Ketika di Bulan Puasa

SIANG-SIANG di musim kemarau memang menyiksa rasanya. Apalagi sedang melakukan perjalanan dalam keadaan berpuasa. Kulit banjir keringet, kerongkongan kering dan kepala tak mau kalah ikut-ikutan pening. Tubuh-tubuh duduk lemes seperti ban kempes, ndlosor, gepeng mlenyok-mlenyok. Berharap angin semilir, eh, yang datang malah pantulan hawa panas dari aspal.
Deretan warung makan dan bakul es degan di pinggir jalan menggoda imtaq. Otomatis, itu membuat kerongkongan celegukan. Pahit. Air ludah yang kami harap bisa menjadi setitik oase ternyata garing. Mulut pun kelametan kala melihat sopir dan kenek bis kota yang kami carter seenaknya ngemil, ngombe dan ngudhut.
"Jan-jane kita ini ndak papa lho mbatalke puasa."
"Ha kok iso?"
"Elho, kita kan musafir. Halal to ndak puasa?"
"Cocotmu!"
"Weh, rak bener to, Jo?"
"Musafir, musafir, lambemu itu, Jun! Mukafir, iyo! Naik bis gini kok musafir."
"Tapi kan tetep melakukan perjalanan."
"Yang boleh mbatalke poso, musafir yang jalan kaki, ngonthel, naik kuda, naik onta, Jun! Jaraknya juga harus jauh banget. Minimal 80 kilo!"
"Opo yo ngono kui, Jo?"
"Embuh, Jun! Mumet ndasku!"
Debat mini antara Bejo dan Arjuno menjadi bumbu yang makin menegaskan bahwa kami tersiksa. Yak, kata tersiksa memang kerap menjadi dalil legal untuk mokah (membatalkan puasa). Termasuk, pura-pura tersiksa. Padahal, ketika bedug maghrib tiba, segunung sesal menggerogoti relung jiwa. Kendati nyeruput es teler sak gelas gede rasanya juga akan hambar, tak sebahagia dan tak sesumringah mereka yang berbuka pasca menjalankan ibadah puasa.
Setelah mengarungi jalanan yang lumayan macet selama ± tiga jam, sampailah kami di rumah Purwaning, kawan seprogram-seangkatan yang ketiban duka: mbah kakungnya meninggal. Tetapi, prosesi pemakaman ternyata usai sudah. Kami terlambat menunaikan salah satu fardhu kifayah dalam Islam itu.
"Sorry, Ning, telat. Jalan agak macet dan bisnya nggeremet kayak keong," kata Bagong, sang ketua tingkat sekaligus ketua rombongan.
"Ora popo, santai wae," jawab Purwaning, "ayo, ke rumah belakang saja. Leren di sana! Kalian pasti capek. Lapar juga kan?"
Bersama Purwaning, kami menuju tempat yang dimaksud. Halamannya masih cukup ramai. Orang-orang dengan stelan hitam-hitam duduk di kursi, ngobrol, udhat-udhut, ngopi, ngeteh dan satu dua di antara mereka sibuk mencongkel sisa-sisa makanan yang nyelilit di sela gigi dengan batang korek jres. Tentu saja kami merasa heran melihat pemandangan itu. Lha, bulan puasa kok seperti hari-hari biasa saja.
"Wah, priyayi-priyayi Solo, to? Monggo, monggo, pinarak," sambut bapaknya Purwaning.
"Monggo, mas, mbak, mlebet mriki. Ora usah isin-isin! Monggo, monggo," sambung ibunya Purwaning.
Kami segera menyalami bapak-ibu Purwaning. Lalu, memasuki rumah. Di dalam rumah, betapa surpresnya kami melihat nasi, gudeg, sate ayam, rica-rica, gudangan, jangan seger, rempelo-ati masak kecap, es teh, kopi, teh anget, rambak, rempeyek dan berbagai macam kue tradisionil sudah tertata apik di ruang tengah. Kami saling pandang, plonga-plongo seperti wong guoblok. Tak urung, segala macam makanan di depan kami itu memancing kerongkongan untuk celegukan kembali.
"Ini sungguhan nggak sih?" celetuk Ngafifi.
"Ho'oh i. Mosok layatan kayak begini? Poso-poso sisan," sahut Ucik.
Kawan-kawan perempuan cuma bisik-bisik mendapati fenomena deso mowo coro itu. Purwaning tertawa kecil melihat kerut-kerut keheranan di wajah kami.
"Hehehehehe. Di sini, ya, memang begini. Layatan, tapi kemasannya seperti slametan. Ayo, yang mau mokah nggak papa. Nggak usah malu-malu."
"Monggo, sudah biasa di sini. Monggo, ayo, dimakan! Musapir ora popo ora poso," sambung bapaknya Purwaning di ambang pintu.
Kami cengar-cengir dan garuk-garuk kepala. Arjuno, dengan nada bercanda, mengajak mokah berjamaah. Bukannya setuju, Bejo malah menggajul pahanya. Saat Purwaning keluar, salah seorang dari kami punya inisiatif agar kawan perempuan yang lagi mens saja yang makan-minum. Tetapi, semuanya bersih. Inisitif lain pun muncul: Dwik dan Kodok saja yang makan-minum. Ndilalah keduanya beragama Nasrani.
"Emoh! Aku ndak enak sama kalian," tolak Dwik. Kodok juga menggeleng mantap.
Kami sekali lagi memaksa mereka.
"Kalian gimana to, cah? Orang puasa kok maksa-maksa aku yang ndak puasa. Aku makan-minumnya nanti saja bareng kalian! Nanti rak mau buka bersama di rumah Surati, to?" tegas Dwik.
Pungkas cerita, kami memubadzirkan segala macam kelezatan itu. Terus terang, kami juga malu pada Dwik dan Kodok yang begitu gigih memegang sikap. Ah, tak sadar kami sudah menjadi setan penggoda justru pada saat sedang melakoni ritual berhadiah sorga.
Satu fakta kemudian terkuak. Purwaning ternyata juga sedang puasa. Dia mengakuinya saat ikut kami menuju rumah Surati untuk melaksanakan agenda buka bersama. Pantes, dia keluar saat kami menghadapi dilema itu. Kalau bapak-ibunya, puasa atau tidak, kami tidak menanyakannya.
"Aku rak cuma nuruti kebiasaan kampungku. Perkara kalian mau mokah apa nggak, ya, up to you. Hehehehehe ...." bela Purwaning saat kami mengecrokinya.
(*) Mengenang layatan belasan tahun silam saat kuliah di Solo.

Kamar Krusek, 8 Juni 2016

Bogeng Ngomongin Anaknya

NAMA asli boleh Sugi Hartono, namun konco-konco lebih suka memanggilnya Bogeng. Bogeng sendiri merupakan plesetan dari kata bugang yang berarti tolol dalam kamus bahasa kampung kami. Panggilan nyrempet-nyrempet bullying tersebut akibat dia tak naik kelas empat kali semasa SD. Dengan alasan itu pula bapak-emaknya mencukupkan ijazahnya sampai SD saja.
Bogeng Ngomongin Anaknya
Bogeng adalah tipe manusia ngeyelan. Sebaik apapun nasehat dan pendapat takkan gampang dia serap. Kata budhe dan pakliknya, sifatnya itu lantaran ari-arinya dulu dipotong dengan cara digigit oleh bapaknya. Selain ngeyelan, lagi-lagi kata budhe dan pakliknya, perbuatan beraroma mitos bapaknya itu juga membuat badannya seperti Gatotkoco, tulang kawat balung wesi. Memang, entah ada hubungannya atau tidak, berkali-kali jatuh ngglundung selama jadi buto (joki karapan sapi) dia tidak pernah luka parah, apalagi patah tulang. Dia jadi joki sejak kelas 5 SD sampai dua tahun kemudian.
Meski rekor pendidikannya kurang woyo-woyo ples ngeyelan, Bogeng memiliki rasa penasaran terhadap segala hal. Apapun itu, kalau sudah menarik perhatiannya, dia akan bertanya pada orang dengan level pengetahuan di atasnya. Dia juga tak segan untuk mencoba sesuatu. Bahkan, dia bisa naik onthel sampai nyetir mobil tanpa bimbingan dan ikut kursus. Cukup bertanya caranya, melihat langsung, lalu mencobanya. Ini yang membuat saya mikir, kenapa jaman SD dulu dia kok tinggal kelas sampai empat kali. Mungkin ada hubungannya dengan otak kanan-otak kiri
Sekarang Bogel berusia 28 tahun. Pekerjaannya melaut, termasuk bertani rumput laut. Tinggal bersama mertuanya. Istrinya satu. Anaknya satu, laki-laki. Saat anaknya baru lahir saya pernah bertanya.
"Anakmu siapa namanya, Geng?"
"Ahmad Sultoni. Bagus to, Par?"
"Sip! Artinya apa, Geng?"
"Ora ngerti. Yang jelas dia anakku!"
"Panggilannya Toni, Geng, bagus."
"Bocah ndeso kok Toni. Essul saja lebih patut."
Lain saat, pas lagi ikut ngumpul reriungan di poskamling setelah nyekar ke makam emmaknya, Bogel geleng-geleng kepala sambil nyengenges. Pasalnya, dia melihat anak tetangga sedang nangis gulung-koming, ngamuk minta tablet Android. Sang ibu makin mengancam, makin kenceng tangis si anak. Usianya sepantaran dengan Essul, anaknya Bogeng. Plus minus 4 tahunlah.
"Untung Essul ndak minta Android."
"Paling-paling kalau lihat temannya mainan Andorid juga minta, Geng."
"Ndak, kok! Di kampung mertuaku, anak-anak tetangga sudah pada punya. Essul ndak tertarik blas. Mainan Androidku saja ndak pernah."
"Biarpun nggak minta, kamu beliin saja. Nelongso lho anakmu kalau nggak seperti teman-temannya."
"Kan anakku ndak minta. Kalau sudah SMP, minta ndak minta, baru tak beliin."
"Terus, anakmu mainan apa?"
Bogeng tersenyum lebar.
"Kayaknya Essul nurun aku, Par. Senengannya sama kewan. Pagi ikut mbahnya makani kambing dan ayam. Kalau tidur ngeloni kucing. Sama biawak anakan juga ndak takut lho. Malah digendongi. Terus ... ini."
Bogeng mencolek-colek Androidnya.
"Nih, Par!"
Bogel memperlihatkan dua foto Ahmad Sultoni aka Essul bersama seekor anak sapi.
Bogeng Ngomongin Anaknya
Bogeng Ngomongin Anaknya
"Weh, kamu ini anak dibiarin sama sapi. Diseruduk habis anakmu, Geng!"
"Mmmm, kamu tahu apa, Par! Ini sapi, kalau sama Essul malah jinak, ndak pecicilan. Kamu lihat sendiri itu gimana. Kayak teman kan?"
"Anakmu pancen nyeleneh, Geng. Persis kamu! Hehehehe."
"Apa kubilang, nurun aku kan. Besar nanti, tak kira Essul bisa kayak Panji. Essul Si Penakluk Ular! Hahahahaha."
"Ular apa? Wong anakmu itu ngglibet sama sapi kok."
"Iya, ya. Kalau sapi apa, Par?"
Sam yang sedari tadi main remi sekonyong-konyong nyahut.
"Penggembala sapi, Geng. Essul Si Penggembala Sapi. Sip, Geng!"
Semua tertawa terkeklek-keklek. Termasuk Bogeng.
"Hahahahaha. Asu! Mosok anakku jadi tukang angon sapi, cah, cah? Gawene tak rewangi udho mblundus lho, cah!"

Rumah Kang Lantip, 30 April 2016

Tentang Balapan Kelereng

Tentang Balapan Kelereng
WAKTU Kang Lantip memulai proyek pembangunan sirkuit balap kelereng di tegalan samping rumahnya, tetangga kanan-kiri langsung bisik-bisik nggak enak. Malah, ada yang diam-diam menuduh balap kelereng itu nantinya cuma untuk menutupi praktek taruhan. Maklum, mereka sudah pada tahu kalau Kang Lantip adalah botoh tarung ayam. Cuma mereka tidak tahu Kang Lantip sudah tiarap gara-gara nyaris kecekel dalam suatu operasi pekat.
Tetapi bisik-bisik dan diam-diam itu segera nomplok di ruang dengar Kang Lantip berkat pradulan Yu Marnih, sang istri tercinta. Empunya warung keceplosan cerita saat Yu Marnih belanja sembako.
"Halllah ... kamu dan mereka tau apa isi otakku? Ini bisnis, proyek, peluang."
"Iyo, iyo, sak karepmu, Pap. Asal, jangan sampe aku jadi janda narapidana!"
"Hussssy ... Cangkemmu itu lho, Mam!"
Balap kelereng beberapa tahun lalu memang sempat booming. Peminatnya bukan cuma bocah-bocah nggak kathokan, melainkan juga orang-orang dewasa. Lumayan buat iseng-iseng berhadiah. Hanya saja, lantaran ulah oknum-oknum yang keblinger menjadikannya sebagai ajang taruhan, bapak-bapak pulisi mengobrak-abriknya. Alhasil, balap kelereng mengalami kevakuman.
Dan Kang Lantip mau menghidupkannya kembali. Setelah gerilya sana-sini dan mendapat restu plus antusiasme dari kolega-koleganya, dia lantas membeli papan-papan kayu dan merancang gimana lelikunya. Untuk mempermulus proyeknya itu, Kang Lantip juga mengkaryakan Mudji, Lono, Gepeng, Kolik, Bogel dan Sam, pemuda-pemuda pengangguran harapan kampung.
Tentang Balapan Kelereng
Hari pertama balapan, pesertanya sungguh-sungguh melebihi ekspektasi. Uang pendaftaran yang cuma 3000 plus kambing muda (hadiah juara 1), dvd player (hadiah juara 2) dan henpon (hadiah juara 3) rupanya sukses membetot animo. Kang Lantip sebagai Jean Todt serta Mudji, Lono, Gepeng, Kolik, Bogel dan Sam sebagai kru sampai-sampai sangat sibuk. Kelereng-kelereng silih berganti menggelinding cepat di sirkuit papan kayu yang garis startnya nangkring di batang pohon mangga; menurun, meliuk, menikung sampai garis finish. Tempik-sorak membuana.
Istimewanya, sebelum penggeberan balapan pertama tersebut, Kang Lantip menghadirkan ketua RT, bayan, carik, kades dan perwakilan polsek untuk membuktikan bahwa dia betul-betul komit melarang taruhan walau cuma serupiah. Pabila ada yang taruhan, maka Kang Lantip sendiri yang akan melaporkan pelaku ke polsek. Semua peserta pun setubuh.
Sore harinya, usai ngitung bathi, usai membagikan uang lelah pada segenap kru balapan (masing-masing dapat 70.000) dan jajan bakso ting-ting bareng anak-istri, Kang Lantip kedatangan tiga orang ibuk-ibuk tetangga.
"Balapannya masih ada to, Tip?"
"Oh, masih, masih, Buk. Malah tadi pada minta seminggu dua kali. Jum'at sama Minggu. Memangnya kenapa, Buk?"
"Mmm ... begini. Kalok boleh, aku, Yu Tum sama Marsiyem pengin jualan."
"Ooooh, boleh, boleh sanget, Buk. Hehehehe .... Silahkan, silahkan."
"Terus, kami mesti bayar berapa buat sewa tempat?"
"Hua ... hahahaha. Halah ... halah. Ndak usssahhhh! Kayak apa pake bayar segala. Gratis, Ibuk-ibuk."
"Tenane, lho? Hehehehe ...
"Elloh, niki saestu, Ibuk-ibuk."
Sampai postingan ini terbit, Kang Lantip sudah menggeber delapan kali balapan. Pesertanya tetap sak jagat raya, membludak, gas poll. Ibuk-ibuk yang tempo hari minta ijin buat jualan mesam-mesem lantaran aqua, teh gelas, gorengan, intel (indomie telor) dan rokok ecerannya laris manis, tandas tuntas. Mudji, Lono, Gepeng, Kolik, Bogel dan Sam pun tak was-was lagi jadi pria-pria tuna pulsa. Paling tidak, dalam seminggu, dari dua kali balapan, masing-masing dari mereka memperoleh 140.000. Kalau sebulan? Lumayanlah, ketimbang lumanyun.
"Sekarang, kamu tau isi otakku kan, Mam?"
Kang Lantip merenges pada Yu Marnih yang kian hari kian gembrot itu.
"Elleh ... Dhapurmu, Pap, Pap. Gitu aja kok bungah."
Kang Lantip nggak menggubris lagi. Jean Todt from kampung itu berjalan mBagong masuk kamar.

Kamar Krusek, 29 April 2016